Minggu, 23 Desember 2012
Perbedaan IPv4 dan IPv6
A.
Daftar istilah
IPv4 : Internet
Protocol version 4
IPv6 : Internet
Protocol version 6
IPv4_IPv6 : interkoneksi dari IPv4 ke IPv6
IPv6_IPv4 : interkoneksi dari IPv6 ke IPv4
RTT : Round-trip
time
NAT-PT : Network Address Translation-Protocol Translation
DNS : Domain
Name System
TCP : Transmission
Control Protocol
UDP : User
Datagram Protocol
Node : elemen dalam jaringan yang memiliki
kartu jaringan
Server : elemen dalam jaringan yang
menyediakan layanan jaringan tertentu
Router : elemen dalam jaringan yang
menghubungkan node dalam suatu jaringan
dengan node
pada jaringan lain.
B.
Arsitektur
IPv4
IPv4 pertama kali
dikembangkan pada awal tahun ’80-an dan rancangan final protokol ini termuat
dalam RFC 791 yang dikeluarkan oleh IETF. Pada awal kemunculannya protokol ini
tidak disebut sebagai IPv4 melainkan hanya sebagai Internet Protocol saja.
C.
Struktur
Header IPv4
Version IHL Type of Sevice Total Length Identification
Flags Fragment Offset Time to Live Protocol Header Checksum Source Address
(32-bit) Destination Address (32-bit) Options Padding

Gambar 1 Struktur header IPv4.
2. Leon-Garcia dan Widjaja (2003)menjelaskan
masing-masing field
header pada Gambar 1 sebagai
berikut:
· Version (4-bit), mengindikasikan versi
Internet Protocol, bernilai 4.
· Internet Header
Length (4-bit),
merupakan panjang header Internet.
· Type of Service (8-bit), menandakan
jenis layanan yang diinginkan oleh paket
bersangkutan.
· Total Length (16-bit), merupakan
panjang total paket IPv4 yang terdiri dari
header dan data.
· Identification (16-bit), mengidentifikasikan
nilai yang ditetapkan pengirim untuk
membantu reassembly fragmen
data.
· Flags (3-bit), menandakan flag-flag
untuk proses fragmentasi.
· Fragment Offset (13-bit), mengindikasikan
posisi fragmen.
· Time to Live (8-bit), jumlah jalur
maksimal di mana paket IPv4 dapat
berjalan sebelum dibuang.
· Protocol (8-bit), mengidentifikasikan
protokol di lapisan yang lebih tinggi.
· Header Checksum (16-bit), memberi
kemampuan pengecekan error terhadap
header IPv4 saja.
· Source Address (32-bit), menyimpan
alamat pengirim.
· Destionation Address (32-bit), menyimpan
alamat penerima.
· Options + Padding (32-bit), memungkinkan
paket untuk meminta opsi
layanan tambahan.
D.
Arsitektur
IPv6
IETF mengembangkan IPv6 pada awal ’90-an
dengan tujuan utama mengatasi masalah ruang alamat Internet yang lambat laun
semakin berkurang, karena perkembangan jumlah pengguna Internet yang tak
terkendali. Ada beberapa tujuan utama dikembangkannya IPv6 ini (Tanenbaum
2003):
1.
mendukung bermilyar-milyar host,
bahkan dengan alokasi
pengalamatan
yang tidak efisien,
2.
mengurangi ukuran tabel routing,
3.
menyederhanakan protokol agar router
dapat memproses paket
lebih cepat,
4.
menyediakan aspek keamanan yang
lebih baik daripada
IPv4,
5.
mengizinkan protokol yang lama dan
baru tetap eksis
bersama selama
beberapa
tahun transisi.

Gambar
2 struktur Ipv6.
E.
Perbedaan
Antara IPv4 DAN Ipv6
Secara umum
elemen-elemen header IPv6 lebih sederhana dibandingkan dengan IPv4,
karena dilakukan perampingan. Leon-
Garcia dan Widjaja (2003) menjelaskan masing-masing
field header IPv6 dalam Gambar 2 di
atas sebagai berikut:
· Version (4-bit), mengindikasikan versi
Internet Protocol, bernilai 6.
· Traffic Class (8-bit), mengindikasikan
kelas prioritas paket.
· Flow Label (20-bit), digunakan pengirim
untuk memberi urutan rangkaian paketpaket.
· Payload Length (16-bit), merupakan
panjang data yang dibawa setelah
header.
· Next Header (8-bit), mengidentifikasikan
tipe header
selanjutnya setelah header
IPv6 utama.
· Hop Limit (8-bit), merupakan jumlah
jalur maksimal di mana paket IPv6 dapat
berjalan sebelum dibuang.
· Source Address (128-bit), menyimpan
alamat pengirim.
· Destination Address (128-bit), menyimpan
Alamat penerima.
G. Mekanisme Transisi
Mekanisme transisi
secara umum didefinisikan sebagai sekumpulan teknik yang
dapat diimplementasikan oleh node IPv6
untuk dapat kompatibel dengan node IPv4
yang sudah eksis sebelumnya (Chown
et al. 2002). Mekanisme ini secara umum terbagi menjadi tiga
kategori, yaitu berupa mekanisme dual-stack, mekanisme tunneling,
dan mekanisme penerjemahan protokol.
Ketiga kategori mekanisme tersebut
memiliki cara kerja dan tujuan yang
berbeda.
Pada mekanisme dual-stack, sebuah
node akan
dilengkapi dengan dua jenis protokol IP, sehingga sering disebut IPv4/IPv6
node. Ini merupakan cara paling
sederhana dalam mekanisme transisi.
Masing-masing IPv4/IPv6
node akan diberikan
alamat IPv4 dan IPv6. Tunneling disebut juga sebagai
enkapsulasi, yaitu paket dari satu protokol dienkapsulasi
ke dalam paket dari protokol yang berbeda. Mekanisme ini digunakan ketika
dua node yang
menggunakan protokol yang sama ingin berkomunikasi menggunakan
jalur yang dimiliki protokol lain.
Kedua mekanisme sebelumnya tidak memiliki
kemampuan menghubungkan node IPv6
yang ingin berkomunikasi dengan node IPv4, atau
sebaliknya.
Jenis
komunikasi tersebut membutuhkan mekanisme
yang mampu menerjemahkan antara IPv4 dan IPv6. Inilah yang merupakan
keunggulan mekanisme penerjemahan protokol. NAT-PT yang menjadi
objek pada penelitian ini adalah salah satu implementasi dari mekanisme perjemahan
protokol.
H. Titik
– Titik Perbedaannya Sebagai Berikut :
1.
Fitur
IPv4: Jumlah alamat menggunakan 32 bit sehingga jumlah alamat unik yang didukung terbatas 4.294.967.296 atau di atas 4 miliar alamat IP saja. NAT mampu untuk sekadar memperlambat habisnya jumlah alamat IPv4, namun pada dasarnya IPv4 hanya menggunakan 32 bit sehingga tidak dapat mengimbangi laju pertumbuhan internet dunia.
IPv6: Menggunakan 128 bit untuk mendukung 3.4 x 10^38 alamat IP yang unik. Jumlah yang masif ini lebih dari cukup untuk menyelesaikan masalah keterbatasan jumlah alamat pada IPv4 secara permanen.
IPv4: Jumlah alamat menggunakan 32 bit sehingga jumlah alamat unik yang didukung terbatas 4.294.967.296 atau di atas 4 miliar alamat IP saja. NAT mampu untuk sekadar memperlambat habisnya jumlah alamat IPv4, namun pada dasarnya IPv4 hanya menggunakan 32 bit sehingga tidak dapat mengimbangi laju pertumbuhan internet dunia.
IPv6: Menggunakan 128 bit untuk mendukung 3.4 x 10^38 alamat IP yang unik. Jumlah yang masif ini lebih dari cukup untuk menyelesaikan masalah keterbatasan jumlah alamat pada IPv4 secara permanen.
2.
Routing
IPv4: Performa routing menurun seiring dengan membesarnya ukuran tabel routing. Penyebabnya pemeriksaan header MTU di setiap router dan hop switch.
IPv6: Dengan proses routing yang jauh lebih efisien dari pendahulunya, IPv6 memiliki kemampuan untuk mengelola tabel routing yang besar.
IPv4: Performa routing menurun seiring dengan membesarnya ukuran tabel routing. Penyebabnya pemeriksaan header MTU di setiap router dan hop switch.
IPv6: Dengan proses routing yang jauh lebih efisien dari pendahulunya, IPv6 memiliki kemampuan untuk mengelola tabel routing yang besar.
3.
Mobilitas
IPv4: Dukungan terhadap mobilitas yang terbatas oleh kemampuan roaming saat beralih dari satu jaringan ke jaringan lain.
IPv6: Memenuhi kebutuhan mobilitas tinggi melalui roaming dari satu jaringan ke jaringan lain dengan tetap terjaganya kelangsungan sambungan. Fitur ini mendukung perkembangan aplikasi-aplikasi.
IPv4: Dukungan terhadap mobilitas yang terbatas oleh kemampuan roaming saat beralih dari satu jaringan ke jaringan lain.
IPv6: Memenuhi kebutuhan mobilitas tinggi melalui roaming dari satu jaringan ke jaringan lain dengan tetap terjaganya kelangsungan sambungan. Fitur ini mendukung perkembangan aplikasi-aplikasi.
4.
Keamanan
IPv4: Meski umum digunakan dalam mengamankan jaringan IPv4, header IPsec merupakan fitur tambahan pilihan pada standar IPv4.
IPv6: IPsec dikembangkan sejalan dengan IPv6. Header IPsec menjadi fitur wajib dalam standar implementasi IPv6.
IPv4: Meski umum digunakan dalam mengamankan jaringan IPv4, header IPsec merupakan fitur tambahan pilihan pada standar IPv4.
IPv6: IPsec dikembangkan sejalan dengan IPv6. Header IPsec menjadi fitur wajib dalam standar implementasi IPv6.
5.
Ukuran header
IPv4: Ukuran header dasar 20 oktet ditambah ukuran header options yang dapat bervariasi.
IPv6: Ukuran header tetap 40 oktet. Sejumlah header pada IPv4 seperti Identification, Flags, Fragment offset, Header Checksum dan Padding telah dimodifikasi.
IPv4: Ukuran header dasar 20 oktet ditambah ukuran header options yang dapat bervariasi.
IPv6: Ukuran header tetap 40 oktet. Sejumlah header pada IPv4 seperti Identification, Flags, Fragment offset, Header Checksum dan Padding telah dimodifikasi.
6.
Header checksum
IPv4: Terdapat header checksum yang diperiksa oleh setiap switch (perangkat lapis ke 3), sehingga menambah delay.
IPv6: Proses checksum tidak dilakukan di tingkat header, melainkan secara end-to-end. Header IPsec telah menjamin keamanan yang memadai
IPv4: Terdapat header checksum yang diperiksa oleh setiap switch (perangkat lapis ke 3), sehingga menambah delay.
IPv6: Proses checksum tidak dilakukan di tingkat header, melainkan secara end-to-end. Header IPsec telah menjamin keamanan yang memadai
7.
Fragmentasi
IPv4: Dilakukan di setiap hop yang melambatkan performa router. Proses menjadi lebih lama lagi apabila ukuran paket data melampaui Maximum Transmission Unit (MTU) paket dipecah-pecah sebelum disatukan kembali di tempat tujuan.
IPv6: Hanya dilakukan oleh host yang mengirimkan paket data. Di samping itu, terdapat fitur MTU discovery yang menentukan fragmentasi yang lebih tepat menyesuaikan dengan nilai MTU terkecil yang terdapat dalam sebuah jaringan dari ujung ke ujung.
IPv4: Dilakukan di setiap hop yang melambatkan performa router. Proses menjadi lebih lama lagi apabila ukuran paket data melampaui Maximum Transmission Unit (MTU) paket dipecah-pecah sebelum disatukan kembali di tempat tujuan.
IPv6: Hanya dilakukan oleh host yang mengirimkan paket data. Di samping itu, terdapat fitur MTU discovery yang menentukan fragmentasi yang lebih tepat menyesuaikan dengan nilai MTU terkecil yang terdapat dalam sebuah jaringan dari ujung ke ujung.
8.
Configuration
IPv4: Ketika sebuah host terhubung ke sebuah jaringan, konfigurasi dilakukan secara manual.
IPv6: Memiliki fitur stateless auto configuration dimana ketika sebuah host terhubung ke sebuah jaringan, konfigurasi dilakukan secara otomatis.
IPv4: Ketika sebuah host terhubung ke sebuah jaringan, konfigurasi dilakukan secara manual.
IPv6: Memiliki fitur stateless auto configuration dimana ketika sebuah host terhubung ke sebuah jaringan, konfigurasi dilakukan secara otomatis.
9.
Kualitas Layanan
IPv4: Memakai mekanisme best effort untuk tanpa membedakan kebutuhan.
IPv6: Memakai mekanisme best level of effort yang memastikan kualitas layanan. Header traffic class menentukan prioritas pengiriman paket data berdasarkan kebutuhan akan kecepatan tinggi atau tingkat latency tinggi.
IPv4: Memakai mekanisme best effort untuk tanpa membedakan kebutuhan.
IPv6: Memakai mekanisme best level of effort yang memastikan kualitas layanan. Header traffic class menentukan prioritas pengiriman paket data berdasarkan kebutuhan akan kecepatan tinggi atau tingkat latency tinggi.
Beberapa perbandingan utama IPv4 dan IPv6 :
IPv4
|
IPv6
|
Panjang
alamat 32 bit (4 bytes) |
Panjang
alamat 128 bit (16 bytes) |
Dikonfigurasi
secara manual atau DHCP IPv4 |
Tidak
harus dikonfigurasi secara manual, bisa menggunakan address autoconfiguration. |
Dukungan
terhadap IPSec opsional |
Dukungan
terhadap IPSec dibutuhkan |
Fragmentasi
dilakukan oleh pengirim dan pada router, menurunkan kinerja router. |
Fragmentasi
dilakukan hanya oleh pengirim. |
Tidak
mensyaratkan ukuran paket pada link-layer dan harus bisa menyusun kembali paket berukuran 576 byte. |
Paket
link-layer harus mendukung ukuran paket 1280 byte dan harus bisa menyusun kembali paket berukuran 1500 byte |
Checksum
termasuk pada header. |
Cheksum
tidak masuk dalam header. |
Header
mengandung option. |
Data
opsional dimasukkan seluruhnya ke dalam extensions header. |
Menggunakan
ARP Request secara broadcast untuk menterjemahkan alamat IPv4 ke alamat link-layer. |
ARP
Request telah digantikan oleh Neighbor Solitcitation secara multicast. |
Untuk
mengelola keanggotaan grup pada subnet lokal digunakan Internet Group Management Protocol (IGMP). |
IGMP
telah digantikan fungsinya oleh Multicast Listener Discovery (MLD). |
Langganan:
Postingan (Atom)

